Mencetak Nilai

بسم الله الرحمن الرحيم

SYARIAHRADIO, BANDUNG.

Ketika berputarnya ekonomi dengan berbagai kebutuhan manusia disana terjadi sirkulasi yang serupa dengan darah yang tidak boleh terhenti, maka darah dari ekonomi tersebut ternyata adalah uang.

Anggap perputaran ekonomi menggunakan alat tukar ekonomi adalah beras maka terjadi perputaran beras semakin banyak barang dibutuhkan semakin banyak beras yang harus disediakan maka apabila berasnya terbatas yang terjadi adalah perputaran menjadi mandeg tersendat sendat dan terhenti, tetapi perputaran tersebut tidak bisa juga berputar terlalu deras nanti akan terjadi apa yang dinamakan overheating dan jiga berputar terlalu deras maka dimana-mana terdapat banyak beras dan nilainya menjadi tidak berarti.

Kemudian beras kita ganti dengan uang, apabila beras itu asal usulnya terdapat kegiatan ekonomi berupa menanam, memetik serta menumbuk padi maka bagaimana dengan uang ? uang tidak dicetak sembarangan tetapi dicetak berdasarkan keseimbangan, benarkah seperti itu ?

Kita lihat mulai mencetak uang dari permintaan kredit, suatu kegiatan ekonomi membutuhkan modal kemudian kegiatan itu mendapatkan laba atau keuntungan dan keuntungan itu adalah tingkat suku bunga (secara konvensional tidak berdasarkan ekonomi syariah), maka kreditur dalam hal ini telah mencetak uang dengan imbalan bunga, artinya setiap 100 satuan mata uang yang dicetak dengan imbalan 5-6 satuan mata uang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s